beragama dan kegilaan



Sigmound Freud, seorang pakar psikoanalisa, pernah mengatakan bahwa: “Agama dapat menyebabkan pemeluknya mengalami gangguan jiwa”. Menurut Freud, perilaku orang beragama adalah perilaku orang yang sedang mengalami gangguan kejiwaan.

Lihatlah, kata Freud, bagaimana seorang pemeluk agama rela melakukan segalanya hanya demi janji2 semata. Ia bahkan rela mengorbankan nyawanya demi janji surga yang belum tentu didapatkan. Jika bukan atas nama agama yang menjanjikannya, tak mungkin seseorang melakukan segala sesuatu hanya berdasarkan pada janji2 tanpa bukti?.

Kemudian, simak bagaimana pemeluk agama selalu mengulang2 rutinitas ritual yang “begitu-gitu” saja di setiap harinya. Hanya orang yang sakit jiwa  yang selalu mengulang perbuatan dan perkataan yang sama pada setiap harinya. Bila agama telah semakin dalam merasuki para pemeluknya, ia semakin berbahaya bagi pemeluknya dan bagi orang lain. Secara sepintas, tesis Freud ini benar, bahwa agama menyebabkan gangguan kejiwaan.

Di kemudian hari, tesis Freud ini pun terbantahkan. Sebab agama ternyata bisa menyehatkan jiwa seseorang. Lihat bagaimana sufi besar Fudhail Ibn Iyadh yang mantan gembong perampok bisa “sembuh” takkala mendengar lantunan Ayat suci Alquran. Atau lihat bagaimana orang kota banyak berbondong2 memenuhi kelas2 sufi demi mendapatkan obat bagi jiwa yang tengah terlanda strees yang berkepanjangan. Bahkan psikologi menawarkan agama sebagai jalan keluar terbaik dalam mengatasi pelbagai gangguan kejiwaan. Jadi agama ternyata bisa menyembuhkan sakit jiwa seseorang dan gugurlah tesis Freud.

Lalu bagaimana dengan kasus pelaku bom Bali?. Bukankah hanya orang yang sakit jiwa yang rela mengorbankan nyawanya sekaligus dengan tega mencederai orang lain?. Dr. Jalaludin Rakhmat dalam bukunya Psikologi Agama berpendapat bahwa agama -sesungguhnya- menyembuhkan jiwa seseorang, membikin sejuk sebagaimana misi agama tersebut.

Walhasil, Agama tidak menyebabkan gangguan kejiwaan. Dan jika kita menemukan semisal kasus di atas, seseorang yang taat beragama tapi tega mencederai orang lain, bukan agamanya yang patut dipersalahkan, tetapi cara ber-agamanya. Dengan kata lain kang Jalal, demikian Ia dipanggil, hendak mengatakan bahwa cara beragama yang salah dapat menyebabkan gangguan kejiwaan. Agamanya tak salah, hanya cara beragama-nya lah yang salah.

Beliau menyodorkan tiga tipikal cara beragama yang menyebabkan sakit jiwa, yaitu:

1. Cara beragama yang membuat kita tidak lagi berfikir realistis, membuat kita menolak realitas. Agama baginya seakan2 mengajarkan penyelesaian permasalahan dengan cepat, mengatasi persoalan dengan mudah.

Kita sering saksikan orang yang larut dalam wiridnya yang sangat teramat panjang untuk mendapatkan rejeki, sementara realita yang ada ialah bekerja secara maksimal justru ia indahkan. Orang demikian tidak berpikir realistis serta menolak realitas. Zikir baginya adalah satu-satunya media (catat: satu-satunya) untuk mendapatkan rezeki dengan mudah.

Dalam kasus ini, Umar ra pernah menegur orang yang kerjanya hanya berdoa saja di mesjid tanpa berusaha, “Ya Akhi Lam Tamturi As-Sama’u Bi Zahab Wa La Bi Fidhoh”. Wahai kawan ketahuilah, sesungguhnya langit tak akan menurunkan emas dan juga perak. Agama mengajarkan agar ada keseimbangan antara doa dengan realitas yang ada. Agama mengajak pemeluknya untuk berpikir realistis.

Sah-sah saja seseorang menghabiskan waktunya dengan wirid yang teramat panjang, atau meminta berkah doa bagi kesembuhan kepada seorang Ulama, tapi hendaknya keyakinannya itu tak menyebabkan ia menafikan realita yang ada.

2. Cara beragama yang mengorbankan akal sehat. Seakan2 agama tidak memperkenankan kita memikirkan sosok sang pencipta dengan akal. Agama bak mengunci akal kita dan membuang jauh-jauh unsur akal dalam agama.

Sungguh indah petikan kalimat Plato takkala ia mengadakan pembelaan: Tuhan menciptakan akal untuk diriku. Akal yang membedakanku dengan makhluk rendah lainnya. Jadi bila tidak aku pergunakan untuk memikirkan zat-Nya atau mengungkap rahasia di balik-Nya, harus aku pergunakan untuk apa akal pemberian Tuhan ini agar pemberiannya tak sia2?.

Memang benar tak semua mampu dicerna oleh akal kita. Dalam Dunia Sophie, misalnya, bagaimana sang mentor Sophie menerangkan kegunaan mitos2 itu diciptakan. Mitos tentang hujan yang dimitoskan dengan Thor yang menggesekan palunya atau mendung sebagai kendaraannya. Semua itu dimitoskan untuk sekedar menerangkan hujan agar masuk akal di saat ilmu pengetahuan belum menjangkaunya. Jadi tak tepat bila seseorang bertanya: “Andaikata demikian, lalu bagaimana engkau “meng-akal-kan” siksa kubur, dan sebagainya?”. Ketahuilah bukan jawabannya yang tak ada, tetapi pertanyaanya lah yang salah. Karena, seperti dikatakan di atas, tidak semuanya harus dimengerti dengan akal. Dan pertanyaan itu adalah domain Iman dan bukan akal.

Namun hal itu semua tidak serta-merta menjadikan posisi akal tertutup untuk agama. Akal seharusnya tetap mendapat porsi yang layak dalam suatu agama. Bukankah agama yang benar semestinya dimengerti oleh akal sehat pemeluknya?

3. Cara beragama kaum extrimis.

Kaum ini biasanya akan mengalami penyakit kejiwaan psikis (psikopat) bernama delusi. Penderita yang terjangkiti delusi akan selalu melihat dunia ini serba hitam putih. Sehingga ia akan senantiasa merasa di kelompok yang putih. Sementara yang lainnya berada dalam kotak hitam. Ia merasa seolah-olah dirinya adalah “nabi” yang diutus oleh Tuhan untuk menyelamatkan umat dari kesesatan. Ia diutus untuk menyelamatkan dunia dari pelbagai kerusakan. Di matanya semua orang salah, ia sendirilah yang benar.

Para pengebom Bali agaknya termasuk tipikal golongan ini. Dengan pemahaman keagamaannya yang belum mendalam, ia akan dengan mudahnya menerima semua doktrin tanpa kritis sama sekali. Ia merasa dirinya sebagai sosok “nabi’ yang diutus untuk menyelamatkan dunia dari kerusakan. Dan ia harus menyelamatkan dunia, meski harus mengorbankan nyawanya dan mencederai orang lain di sekitarnya.

Demikian pula dengan sosok2 yang lebih mengedepankan kekerasan dalam beragama. Biasanya penyakit ini akan mudah menghinggapi orang yang menganggap agamnya hanya sebatas ritual saleh semata. Tokh, untuk mencapai surga tidak melulu soal ritual shaleh, melainkan juga ada ritual sosial yang mengimbanginya. Dalam hal ini ungkapan Ali Syariati patut untuk dikedepankan, bahwa sesungguhnya Alquran 70 persen-nya berbicara mengenai hubungan antar manusia.

Mereka beranggapan telah menegakkan panji-panji agama, sebaliknya justru meruntuhkannya dan melumuri panji-panji suci agama dengan jelaga hitam nan penuh kenistaan.

Juga terhadap orang yang memahami kitab sucinya hanya secara tekstual-nya saja, tanpa memperhatikan kontekstual. Sehingga Jihad dimaknai sebagai perang. Yang terjadi ialah memori yang terekam dalam otaknya tentang bagaimana bertemu dengan “bidadari meskipun harus melukai diri sendiri dan mengorbankan nyawa sesama.

Dengan bengisnya mereka menyegel tempat ibadah umat lain, merusak masjid , menebar teror serta menumpahkan darah orang-orang yang tak sepaham dengannya. Sakitnya, dengan bangganya mereka melakukan itu sembari mengepalkan tangan, meneriakkan nama Tuhan. “Atas nama agama.”

Maraknya fenomena terorisme di belahan NKRI, menjadi pertanda nyata bahwa ada kesalapahaman tersendiri dalam memandang agama, terutama tujuan dan misinya. Agama tak patut disalahkan dengan disebut sebagai sumber dari kekerasan, melainkan cara beragama seseorang-lah yang patut untuk kita kaji kembali.

Jadi sudah sehatkah cara beragama kita? Atau jangan2 justru kita telah terjangkiti penyakit kejiwaan?. Dan agama tidak menyebabkan gangguan kejiwaan, tetapi cara menyikapi agama yang salah yang justru menyebabkan gangguan kejiwaan.

READMORE
 

mentari pagi


Ah, pagi yang sangat indah…
Rinai embun segar mengalir melalui jemari alam pertanda pagi telah menyentuh bumi. Memberi sedikit kehangatan bagi jiwa-jiwa yang terbalut dinginnya malam. Sinar mentari merask melali celah jendela, mencoba mengetuk pintu mataku, memaksanya terbangun melihat indahnya dunia.

Ah, pagi yang sangat indah,…
Segelas kopi hangat ataupun secangkir teh kayaknya sangat layak dijadikan teman untuk menikmati suasana indah suguhan sang Ilahi ini (pagi). Apalagi jika ada “Kue-kue atau teman-teman”nya dan dinikmati bersama keluarga tercinta. Wah sungguh moment yang sangat mengagumkan.

Ah, pagi yang sangat indah…
Entah sudah berapa kali Tuhan memberikan suguhan pagi pada kita. Ataukah pernahkah kita menghitung sudah berapa banyak pagi yang telah kita lewati. Atau mungkin kita sudah berfikir kapan kira-kira kita kan dapati pagi terakhir kita? Tapi sebelum itu semua terjadi marilah kita nikmati pagi hari ini, tak usah khawatirkan pagi esok hari.

Ah, pagi yang sangat indah…
Tuhan memang sangat hebat menjadikan pagi sebagai awal hari. Menyuguhkan keindahannya saat kita hendak memulai aktifitas. Kesegarannya memberi kita kesiapan menghadapi tantangan.


Ah, pagi yang sangat indah…
Bersedih adalah cara yang paling bodoh untuk menikmati hidup. Maka tersenyumlah,,.
READMORE
 

tentang hati




Rasa sayang itu bukan penilaian sayangku…
Rasa sayang itu proses!
proses dimana,kita memberikan hati kepada seseorang yg kita sayang.
secara utuh dan sepenuhnya...

NOL,bukan berarti angka yang tidak berarti…
NOL ada sebelum satu…
NOL pun bisa menambah penilaian.

Rasa sayang gak sama kayak NOL,
yang di kali atau di bagi dg angka berapapun hasilnya gak akan berubah!
bukan,bukan itu…
Rasa sayang itu proses…
proses bagaimana cara kita memberi perasaan kepada seseorang
hingga dia pun merasakan.
aku gak peduli mau berapa nilai atau point yang kamu kasi ke aku!

karena itu gak akan merubah sayang aku ke kamu!
READMORE
 

pada suatu ketika



"sekarang kucukupkan saja kita dengan rasa sayangmu padaku, dan mudah-mudahan cukup juga bagimu rasa sayangku."

mentari pagiku,,
ya, semenjak hari itu, kita mencintai dengan asumsi yang berbeda. aku mencintai kesunyianmu, hatimu. tempat segala pertahananku luruh, jauh sebelum mencapai batas kelu di lidahku. kita sama. perihal rasa. perihal cinta yang tidak pernah bisa di jelaskan kata-kata bertanda baca.

akan tiba pada suatu ketika,,,
semuanya beresonansi di vibrasi yang sama. menciptakan gema seperti sangkakala atau sebuah melodi indah yang sederhana.

akan tiba pada suatu ketika,,,
kita akan terantuk dinding tebal ingatan atau perihal cerita lama yang sering kita perbincangkan. lantas aku akan butuh berhenti sejenak mengobati luka, membersihkan yang tidak perlu kita berdua bawa selamanya. hingga saat itu tiba, akankah kau tetap mengagumiku?

akan tiba pada suatu ketika,,,
kita duduk berhadapan di sebuah meja bundar tanpa tepian dengan sudut tajam. setara.
dihadapanmu-dihadapanku, kita pertaruhkan dua hal yang sama. waktu dan hati, yang mungkin beralas sebuah obsesi kompulsif. pemenang mendapatkan semuanya. atau kita bisa saling mengalah lantas menanggalkan segalanya. 
sebelum berlalu menuju arah yang sama. 

mutiara di lautku,,, 
sekarang kamu bisa berhenti mencemburu. diammu jauh lebih dalam dari lubang hitam yang ditelaah pemikiran Einstein. lebih gelap dari ketenaran yang menghampiri kurt cobain.

bisa bayangkan itu? kelebihanmu, kelemahanku. jangan tempa aku dengan sesuatu yang cuma bisa dihadapi huruf rajah, dupa, atau kitab kuning. aku bukan sufi yang menasbihkan fatwa rindu dengan seucap saja kalimat kalbu.
jangan mengujiku dengan menjanjikan sesuatu. seperti aku tak pernah berjanji perihal apapun padamu.
aku tak menjual janjiku. yang kuperjuangkan peluk sayangmu.
sisi manusiamu.
READMORE
 

a woman who writes




Be in love with a woman who reads. Date a woman who spends her money on books instead of clothes. She has problems with closet space because she has too many books. Date a woman who has a list of books she wants to read, who has had a library card since she was twelve.

Find a woman who reads. You’ll know that she does because she will always have an unread book in her bag.She’s the one lovingly looking over the shelves in the bookstore, the one who quietly cries out when she finds the book she wants. You see the weird chick sniffing the pages of an old book in a second hand book shop? That’s the reader. They can never resist smelling the pages, especially when they are yellow.

She’s the one that reading while waiting in that coffee shop down the street. If you take a peek at her mug, the non-dairy creamer is floating on top because she’s kind of engrossed already. Lost in a world of the author’s making. Sit down. She might give you a glare, as most womans who read do not like to be interrupted. Ask her if she likes the book. Buy her another cup of coffee.

Let her know what you really think of Coelho. See if she got through the first chapter of Fellowship of the ring. Understand that if she says she understood James Joyce’s Ulysses she’s just saying that to sound intelligent. Ask her if she loves Alice or she would like to be Alice.

It’s easy to date a woman who reads. Give her books for her birthday, for New year eve and for anniversaries. Give her the gift of words, in poetry, in song. Give her Neruda, Tagore, Sexton, Cummings. Let her know that you understand that words are love. Understand that she knows the difference between books and reality but by god, she’s going to try to make her life a little like her favorite book. It will never be your fault if she does.

and if you have to,,

Lie to her. If she understands syntax, she will understand your need to lie. Behind words are other things: motivation, value, nuance, dialogue. It will not be the end of the world.

Fail her. Because a woman who reads knows that failure always leads up to the climax. Because womans who understand that all things will come to end. That you can always write a sequel. That you can begin again and again and still be the hero. That life is meant to have a villain or two.

Why be frightened of everything that you are not? Womans who read understand that people, like characters, develop. Except in the Twilightseries.

If you find a woman who reads, keep her close. When you find her up at 2 AM clutching a book to her chest and weeping, make her a cup of tea and hold her. You may lose her for a couple of hours but she will always come back to you. She’ll talk as if the characters in the book are real, because for a while, they always are.

You will propose on a hot air balloon. Or during a rock concert. Or very casually next time she’s sick. Over Skype.

You will smile so hard you will wonder why your heart hasn’t burst and bled out all over your chest yet. You will write the story of your lives, have kids with strange names and even stranger tastes. She will introduce your children to the Cat in the Hat and Aslan, maybe in the same day. You will walk the winters of your old age together and she will recite Keats under her breath while you shake the snow off your boots.

Date a woman who reads because you deserve it. You deserve a woman who can give you the most colorful life imaginable. If you can only give her monotony, and stale hours and half-baked proposals, then you’re better off alone. If you want the world and the worlds beyond it, propossed a woman who reads.

Or better yet, marry a woman who writes.
READMORE