Tampilkan postingan dengan label pikiran bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pikiran bebas. Tampilkan semua postingan

my greatest dad



Selama ini kita selalu menuliskan cerita cerita perjuangan seorang ibu untuk anaknya.
Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak kecil……
Papa biasanya mengajari buah hati kecilnya naik sepeda. Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu… Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” , Mama takut anak yang di sayanginya terjatuh lalu terluka….
Tapi sadarkah kamu? Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu sikecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba. Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”. Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”. Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja…. Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”. Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga.. Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu… Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama….
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu? Ketika saat seorang pacar mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia…. Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu.. Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu? Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk
melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir… 

Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut -larut… Ketika melihat sikecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang? “Bahwa sikecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa” Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti… Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

Ketika kamu menjadi anak dewasa…. Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain… Papa harus melepasmu di bandara/terminal/stasiun.
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu? Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini- itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. . Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat. Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa. Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka dan mainan baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah :“Tidak…. Tidak bisa!”
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “ sikecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
Sampai saat seorang belahan jiwamu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin.. Karena Papa tahu…..
Bahwa lelaki/wanita itulah yang akan menggantikan posisin dan perhatiannya nanti.

Dan akhirnya…. Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang yang mengasihimu,
Papa pun tersenyum bahagia…. 
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Papa menangis karena papa sangat berbahagia,
kemudian Papa berdoa…. Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata:
“Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik…. sikecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi seseoarang yang luar biasa…. Bahagiakanlah ia bersama pasangannya…”
Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih….
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya…. Papa telah menyelesaikan tugasnya….

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita…
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal…


*bukan tulisan sendiri
READMORE
 

tentang itu,,



Sore itu ketika matahari mulai terbenam, aku bersama nelayan Tua  asyik ngobrol dibale panjang depan rumahnya menghadap pantai di Pulau Derawan. Kederhanaan hidupnya tercermin dalam rutinitas sebagai nelayan yg nampak selalu tegar dan murah senyum dalam lingkungan kelurga kecilnya. Dalam obrolan perkenalan ini ada hal yang membuatku tergelitik untuk mengetahui lebih dalam ttg prinsip hidup nelayan Tua ini. Ketika aku melontarkan pertanyaan apa yg bisa membuat pak Tua ini begitu tegar, murah senyum dan nampak bersemangat yg menyiratkan kebahagiaan dan kenyamanan dlm hidupnya.

Pak Tua, apa sebenarnya yang membuat bapak bgt semangat dan terkesan santai ( tdk ngoyo ) menjalani hidup ini, ” aku berseloroh “. Mas, Urip kwi nggur ” sawang sinawang ” sergah pak Tua. Donyo brono dudu ukuran seng biso ndadekno menungso urip bungah utowo seneng, bgt pak Tua menambahkan. Urip kwi biso digawe gampang ugo biso digawe susah. Intine ” Gampange wong Urip kwi, Uripe wong Gampang. Angele wong Urip kwi Uripe wong Angel “.Intine Susah lan seneng kwi ono njerone awake dhewe, dudu onok njabane awak dadine nek jarene piwulang Agomo, Surgo lan Neroko iku yo neng njerone awake dhewe seng wes diraksakno saiki dudu mengko lek wes tumekaning pati.

Sebelum pak Tua melanjutkan pembicaraannya, aku menyela…” Loh, bukannya di dalam Kitab Suci dikatakan bahwa Surga dan Neraka bisa ditemui di alam akherat nanti pak??? “. Pak Tua menimpali, Lo iku lak jarene Tulisan nok Kitab Suci, opo sampeyan percoyo karo tulisan???. Perkataan pak Tua ini membuatku tertarik untuk melanjutkan diskusi sambil cangkruk di bale panjang sambil ditemani suguhan wedang Kopi. Dengan semangat akupun melanjutkan pertanyaan seperti di bawah ini :

Aku : Mengapa orang mesti beragama?

Nelayan Tua : Siapa yang mengatakan mesti?

Aku : Sejak kecil aku dinasehati untuk menjadi orang yang taat beragama, karena hanya dengan demikian orang akan masuk surga. Lebih khusus, lagi, aku juga diajari bahwa hanya yang memeluk Islam yang bakal masuk surga.

Nelayan Tua : He, he…dan engkaupun percaya?

Aku : Mau tidak mau, karena hanya dengan begitu aku bisa masuk surga. Siapa yang tak ingin masuk surga?

Nelayan Tua : Lantas, apa yang kau maksud dengan surga?

Aku : Menurut berita yang kuterima, itu adalah sebuah tempat yang teramat indah, yang didalamnya ada kebun yang indah, sungai mengalir di bawahnya, dan yang paling menarik..ada bidadari-bidadari yang teramat cantik…

Nelayan Tua : Ooooo….jadi engkau berjuang menjadi pemeluk agama yang taat agar bisa menikmati semua itu?

Aku : Ya, kurang lebih begitu….

Nelayan Tua : Bagaimana jika semua itu tak ada? Apakah engkau masih akan taat beragama?

Aku : aku belum memikirkannya….

Nelayan Tua : Ternyata…engkau itu pribadi yang tak ikhlash..kau berbuat sesuatu karena ada maunya…ada pamrih

Aku : Bukan begitu…aku hanya mengikuti apa yang diajarkan kepadaku….

Nelayan Tua : He, he…kini engkau berkilah……Tapi baiklah…apakah yang mengajarkanmu demikian, pernah melihat surga? Apakah mereka tahu pasti bahwa surga itu ada?

Aku : aku tak yakin..yang kutahu..mereka mengatakan surga itu ada karena itulah yang dikatakan Kitab Suci…

Nelayan Tua : Oh..jadi, diapun belum pernah tahu dan melihat sendiri…..

Aku : Lalu apa salahnya..bukankah yang dikatakan Kitab Suci itu pasti benar?

Nelayan Tua : Yang bilang salah siapa? aku hanya ingin tanya, apakah pemahamanmu, dan pemahaman orang-orang yang mengajarimu tentang yang dikatakan di dalam Kitab Suci itu pasti benar?

Aku : Kalau boleh jujur, kemungkinannya bisa benar ya bisa salah…

Nelayan Tua : Lalu, apa yang bisa menjadi tolak ukur bahwa pemahaman itu benar atau salah…

Aku : Bukankah..pemahaman terhadap Kitab Suci itu sudah baku? Bukankah semua ulama memahami bahwa memang surga itu seperti yang dikatakan di dalam kitab suci, dan bahwa itu hanya diperuntukkan bagi orang Islam?

Nelayan Tua : Itulah masalahnya….kamu menganggap sesuatu yang cuma merupakan pemahaman, persepsi, hasil olah pikiran, sebagai sebuah kebenaran yang mutlak dan baku…

Aku : Lalu…bagaimana semestinya…?

Nelayan Tua : Mari kita bicara tentang sebuah samudera. Menurutmu, bagaimana caranya agar kita bisa tahu tentang samudera itu? Apakah kita sudah punya alat untuk mengetahuinya?

Aku : Dengan mataku, aku bisa melihat permukaan samudera yang biru…kadang aku bisa melihat kapal berlayar di permukaan samudera itu…

Nelayan Tua : Baik…lalu apa yang ada di balik permukaan samudera itu? Ada apa di kedalamannya?

Aku : aku bisa menduga-duga dengan pikiranku..mungkin di dalamnya banyak ikan…mungkin juga ada terumbu karang..atau barangkali ada kapal selam….

Nelayan Tua : Apakah pasti demikian yang ada di dalam samudera?

Aku : Ya belum tentu…..

Nelayan Tua : Satu2nya cara untuk mengetahui apa yang sesungguhnya ada di dalam samudera itu kamu harus menyelam..kamu harus masuk ke kedalaman….

Aku : Tentu saja…

Nelayan Tua : Lalu, bagaimana caranya agar kamu bisa tahu hakikat surga?

Aku : Pertama, aku sekadar mempercayai apa yang dikatakan oleh orang yang menurutku pintar…Kedua, aku gunakan akalku untuk menduga-duga seperti apa surga itu…Tapi, jelas, aku memang tak akan tahu banyak tentang surga jika begitu…Yang paling mungkin membuat aku tahu kebenaran surga..ya aku harus masuk dulu ke situ..aku harus menyaksikannya langsung….

Nelayan Tua : Lalu apa yang menghalangimu untuk melakukannya?

Aku : Bukankah itu tak perlu? Bukankah sudah ada kitab suci? Bukankah sudah ada ulama yang membimbing kita?

Nelayan Tua : Kalau kau tak lakukan, kau tak akan pernah tahu kebenaran sesungguhnya…kau hanya akan terus dalam praduga, prasangka….bahkan sejatinya, kau juga tak akan tahu apakah yang selama ini kau yakini, yang kau terima sebagai ajaran dari sekian banyak orang yang kau anggap pandai itu, benar atau salah….

Aku : Kamu benar…..tapi mungkinkah?

Nelayan Tua : Di dalam dirimu…sesungguhnya ada pintu gerbang untuk mengetahui hakikat kebenaran yang selama ini tersembunyi?

Aku : aku tak pernah mendengar hal itu…

Nelayan Tua : Ha..ha…ha….

Aku : Mengapa tertawa..

Nelayan Tua : Kau naif sekali…Kau yakin sekali sebagai pemilik tunggal surga, tapi hal sepele begitupun kau tak tahu…

Aku : Ajari aku….aku sadar bahwa aku memang naif..

Nelayan Tua : Untuk bisa menemukan gerbang itu..kau harus melakukan banyak hal: kau harus singkirkan kedengkian, amarah, keserakahan, dan berbagai keburukan lainnya dari dalam hatimu…

Lalu, kau sering-seringlah memasuki alam keheningan..buat pikiranmu diam sejenak..biarkan dirimu berhubungan dengan suara di dalam hatimu…Berikutnya…kau harus berbuat baik kepada semua yang ada di sekitarmu…termasuk kepada pepohonan, bebatuan, langit, penghuni langit, tetangga, leluhur, dan semuanya…

Aku : Berat sekali….

Nelayan Tua : Ha, ha..begitu saja sudah berat kok yakin jadi pemilik surga….

Aku : Dalam hati aku misuh misuh pada diriku sendiri…Diampuuuuuuttt…aku memang GEMBLUNG..!!.

Nelayan Tua : Ya sudah, berhubung sudah larut kita akhiri jagongan ini, istirahat dulu bukannya besok kau akan menyelam??? nanti kau akan tahu sendiri keindahan di dalam laut setelah kau menyelaminya sendiri bukan dari cerita2 yg dutuliskan orang lain dlm buku.

Aku : Baik pak, terima kasih sudah bersedia menemani dan mengantarkan saya menyelam besok pagi.
READMORE
 

suami ideal itu,,,,



Membawa beban dipunggung puluhan kilogram, tak pernah menyerah pada cuaca buruk, bertanggung jawab pada teman seperjalanan, bisa memasak dan selalu menerima dalam keadaan terburuk sekalipun. Mungkin tak terlalu berlebihan jika hal - hal itu dinobatkan pada para pendaki yang kebanyakan di dominasi oleh para pria. 

Membawa tas ransel besar ( carrier ) dengan isi belasan atau bahkan puluhan kilogram ibaratkan satu keluarga yang dipikul pada pundak seorang pria menuju puncak. Tas itu merupakan nyawa, hidup dan amanah yang tidak boleh lepas dari punggungnya. 


Dengan susah payah tas itu dibawa menuju puncak melewati jalan setapak yang curam menanjak. Belum lagi ketika cuaca tidak bersahabat, hujan badai, kabut tebal, dingin yang menusuk. Menjadi cobaan tersendiri bagi mereka, hanya kesabaran, keikhlasan dan semangat tak kenal lelah yang menjadi modal utama.



Suatu pendakian umumnya dilakukan oleh beberapa orang dan mereka saling bertanggung jawab satu sama lain.Jika salah satu cidera atau menurun kesehatannya, pasti mereka akan membackup dan merawatnya dengan sabar. 



Ketika waktu makan tiba pasti semuanya sibuk menyiapkan masakan yang akan dihidangkan, kadang menunya pun tak pernah ada di restoran manapun. Mereka adalah chef hasil didikan alam. Tidur beralaskan matras yang jauh dari kata empuk, dinginnya cuaca pegungungan, berhimpit - himpitan dengan teman setenda, belum lagi jika ada salah satu yang kentut atau mendengkur. Tidak jadi masalah bagi mereka, bahkan hal itu dianggap cerita untuk anak cucu mereka nanti.



Selalu dengan tawa dan senyuman mereka menikmatinya.Kepuasan wajah mereka akan terlihat jika telah menapaki puncak yang jadi tujuannya. Tak ada yang bisa menggantikan itu dalam hidup mereka, rasa sakit, lelah dan hampir putus asa akan hilang ketika melihat matahari sebagai awal baru datang di ufuk timur. Jadi ..... untuk para wanita, berminatkah mencari suami ideal seorang pendaki???
READMORE
 


kita bicara tentang apa, kawan?
siang malam ibu2, gadis muda, anak kecil, pembantu duduk rapi menonton sinetron penuh gombal kehidupan, acara gosip2 murahan menyengat bau bangkainya, atau lagu2 merengek bicara cinta dan omong-kosong!
siang malam bapak2, bujang tanggung, anak baru mengeja huruf duduk nyaman menonton carut-marut berita, talkshow yang dari pembicaranya berleleran ludah sok-gaya, atau reality show penuh tipu2

kita diskusi tentang apa, cuy?
setiap jengkal hidup diisi iklan2 konsumerisme berbungkus kemasan suci bagai perawan tak berdosa... pertunjukan gemerlap konsumerisme dihiasi polling2 bodoh yg dibuat laksana patriotisme dan bisa bermanfaat bagi bangsa negara..
setiap kaki melangkah mentok sana-sini dengan mall, plaza, city center, bahkan di kampung2 pun dikepung minimarket dan jaringan MLM...dan lihat, si pencetus semua gaya hidup ini lewat menaiki alphard...yg harganya,, pembantu bekerja 200 tahun saja seluruh gajinya ditabungkan tetap tidak terbeli.. dan lihat, si pemeran sinetronnya.. menangis sebentar, kontan dibayar seharga uang sekolah si bujang selama setahun..durasi 30 detik di televisi seharga 10 MCK di kampung agar mereka tidak berak sembarangan di kebun dan bikin disentri, kolera menyebar..iklan satu halaman penuh di suratkabar, seharga perbaikan 100 dapur kampung, agar asap tidak mengungkung rumah dan membuat penyakit saluran pernafasan menjadi pembunuh nomor 1 di pelosok2 negeri..

oi, kita bicara tentang apa, lai?
kita kenal friend antah berantah di moskow, kita add artis, penulis, macam dekat benar ber-haha-hihi di wall, pages-nya.. tapi apakah kita kenal tetangga sebelah rumah? pernah mengantar makanan ke mereka? atau jangan2 kalau ada orang bertanya di mana rumah Pak Mahmud, kita cuma bego manggut-manggut padahal rumahnya persis di depan jidat kita..kau mau bicara tentang budaya apa, kawan?setiap bulan puasa tiba, berjejelan orang berkerudung cantik sekali; ceramah muntah bagai peluru dari senapan mesin... setiap naik haji, dengan cepat kuota 200 ribu sekian terpenuhi, bahkan jamaah yg menangis gagal berangkat jd tontonan.. tapi lihat? mengurus pengantar surat nikah di kelurahan saja harus bayar 50.000 rupiah.. mengurus surat kematian harus menyumpal petugasnya.. apalagi calo2 dokumen lebih penting.. jangan tanya soal mengurus keadilan di negeri ini..gombal!hari ini semua urusan hanya berputar di perut, selangkangan, lantas berkelindan di mulut, tangan, kaki sebagai bawahan.. tidak ada lagi kesempatan bagi hati untuk bisa sedetik saja memberitahu: pada akhirnya semua hanya menjadi debu tdk bersisa..

kita memang sedang bicara tentang apa..
READMORE
 

beragama dan kegilaan



Sigmound Freud, seorang pakar psikoanalisa, pernah mengatakan bahwa: “Agama dapat menyebabkan pemeluknya mengalami gangguan jiwa”. Menurut Freud, perilaku orang beragama adalah perilaku orang yang sedang mengalami gangguan kejiwaan.

Lihatlah, kata Freud, bagaimana seorang pemeluk agama rela melakukan segalanya hanya demi janji2 semata. Ia bahkan rela mengorbankan nyawanya demi janji surga yang belum tentu didapatkan. Jika bukan atas nama agama yang menjanjikannya, tak mungkin seseorang melakukan segala sesuatu hanya berdasarkan pada janji2 tanpa bukti?.

Kemudian, simak bagaimana pemeluk agama selalu mengulang2 rutinitas ritual yang “begitu-gitu” saja di setiap harinya. Hanya orang yang sakit jiwa  yang selalu mengulang perbuatan dan perkataan yang sama pada setiap harinya. Bila agama telah semakin dalam merasuki para pemeluknya, ia semakin berbahaya bagi pemeluknya dan bagi orang lain. Secara sepintas, tesis Freud ini benar, bahwa agama menyebabkan gangguan kejiwaan.

Di kemudian hari, tesis Freud ini pun terbantahkan. Sebab agama ternyata bisa menyehatkan jiwa seseorang. Lihat bagaimana sufi besar Fudhail Ibn Iyadh yang mantan gembong perampok bisa “sembuh” takkala mendengar lantunan Ayat suci Alquran. Atau lihat bagaimana orang kota banyak berbondong2 memenuhi kelas2 sufi demi mendapatkan obat bagi jiwa yang tengah terlanda strees yang berkepanjangan. Bahkan psikologi menawarkan agama sebagai jalan keluar terbaik dalam mengatasi pelbagai gangguan kejiwaan. Jadi agama ternyata bisa menyembuhkan sakit jiwa seseorang dan gugurlah tesis Freud.

Lalu bagaimana dengan kasus pelaku bom Bali?. Bukankah hanya orang yang sakit jiwa yang rela mengorbankan nyawanya sekaligus dengan tega mencederai orang lain?. Dr. Jalaludin Rakhmat dalam bukunya Psikologi Agama berpendapat bahwa agama -sesungguhnya- menyembuhkan jiwa seseorang, membikin sejuk sebagaimana misi agama tersebut.

Walhasil, Agama tidak menyebabkan gangguan kejiwaan. Dan jika kita menemukan semisal kasus di atas, seseorang yang taat beragama tapi tega mencederai orang lain, bukan agamanya yang patut dipersalahkan, tetapi cara ber-agamanya. Dengan kata lain kang Jalal, demikian Ia dipanggil, hendak mengatakan bahwa cara beragama yang salah dapat menyebabkan gangguan kejiwaan. Agamanya tak salah, hanya cara beragama-nya lah yang salah.

Beliau menyodorkan tiga tipikal cara beragama yang menyebabkan sakit jiwa, yaitu:

1. Cara beragama yang membuat kita tidak lagi berfikir realistis, membuat kita menolak realitas. Agama baginya seakan2 mengajarkan penyelesaian permasalahan dengan cepat, mengatasi persoalan dengan mudah.

Kita sering saksikan orang yang larut dalam wiridnya yang sangat teramat panjang untuk mendapatkan rejeki, sementara realita yang ada ialah bekerja secara maksimal justru ia indahkan. Orang demikian tidak berpikir realistis serta menolak realitas. Zikir baginya adalah satu-satunya media (catat: satu-satunya) untuk mendapatkan rezeki dengan mudah.

Dalam kasus ini, Umar ra pernah menegur orang yang kerjanya hanya berdoa saja di mesjid tanpa berusaha, “Ya Akhi Lam Tamturi As-Sama’u Bi Zahab Wa La Bi Fidhoh”. Wahai kawan ketahuilah, sesungguhnya langit tak akan menurunkan emas dan juga perak. Agama mengajarkan agar ada keseimbangan antara doa dengan realitas yang ada. Agama mengajak pemeluknya untuk berpikir realistis.

Sah-sah saja seseorang menghabiskan waktunya dengan wirid yang teramat panjang, atau meminta berkah doa bagi kesembuhan kepada seorang Ulama, tapi hendaknya keyakinannya itu tak menyebabkan ia menafikan realita yang ada.

2. Cara beragama yang mengorbankan akal sehat. Seakan2 agama tidak memperkenankan kita memikirkan sosok sang pencipta dengan akal. Agama bak mengunci akal kita dan membuang jauh-jauh unsur akal dalam agama.

Sungguh indah petikan kalimat Plato takkala ia mengadakan pembelaan: Tuhan menciptakan akal untuk diriku. Akal yang membedakanku dengan makhluk rendah lainnya. Jadi bila tidak aku pergunakan untuk memikirkan zat-Nya atau mengungkap rahasia di balik-Nya, harus aku pergunakan untuk apa akal pemberian Tuhan ini agar pemberiannya tak sia2?.

Memang benar tak semua mampu dicerna oleh akal kita. Dalam Dunia Sophie, misalnya, bagaimana sang mentor Sophie menerangkan kegunaan mitos2 itu diciptakan. Mitos tentang hujan yang dimitoskan dengan Thor yang menggesekan palunya atau mendung sebagai kendaraannya. Semua itu dimitoskan untuk sekedar menerangkan hujan agar masuk akal di saat ilmu pengetahuan belum menjangkaunya. Jadi tak tepat bila seseorang bertanya: “Andaikata demikian, lalu bagaimana engkau “meng-akal-kan” siksa kubur, dan sebagainya?”. Ketahuilah bukan jawabannya yang tak ada, tetapi pertanyaanya lah yang salah. Karena, seperti dikatakan di atas, tidak semuanya harus dimengerti dengan akal. Dan pertanyaan itu adalah domain Iman dan bukan akal.

Namun hal itu semua tidak serta-merta menjadikan posisi akal tertutup untuk agama. Akal seharusnya tetap mendapat porsi yang layak dalam suatu agama. Bukankah agama yang benar semestinya dimengerti oleh akal sehat pemeluknya?

3. Cara beragama kaum extrimis.

Kaum ini biasanya akan mengalami penyakit kejiwaan psikis (psikopat) bernama delusi. Penderita yang terjangkiti delusi akan selalu melihat dunia ini serba hitam putih. Sehingga ia akan senantiasa merasa di kelompok yang putih. Sementara yang lainnya berada dalam kotak hitam. Ia merasa seolah-olah dirinya adalah “nabi” yang diutus oleh Tuhan untuk menyelamatkan umat dari kesesatan. Ia diutus untuk menyelamatkan dunia dari pelbagai kerusakan. Di matanya semua orang salah, ia sendirilah yang benar.

Para pengebom Bali agaknya termasuk tipikal golongan ini. Dengan pemahaman keagamaannya yang belum mendalam, ia akan dengan mudahnya menerima semua doktrin tanpa kritis sama sekali. Ia merasa dirinya sebagai sosok “nabi’ yang diutus untuk menyelamatkan dunia dari kerusakan. Dan ia harus menyelamatkan dunia, meski harus mengorbankan nyawanya dan mencederai orang lain di sekitarnya.

Demikian pula dengan sosok2 yang lebih mengedepankan kekerasan dalam beragama. Biasanya penyakit ini akan mudah menghinggapi orang yang menganggap agamnya hanya sebatas ritual saleh semata. Tokh, untuk mencapai surga tidak melulu soal ritual shaleh, melainkan juga ada ritual sosial yang mengimbanginya. Dalam hal ini ungkapan Ali Syariati patut untuk dikedepankan, bahwa sesungguhnya Alquran 70 persen-nya berbicara mengenai hubungan antar manusia.

Mereka beranggapan telah menegakkan panji-panji agama, sebaliknya justru meruntuhkannya dan melumuri panji-panji suci agama dengan jelaga hitam nan penuh kenistaan.

Juga terhadap orang yang memahami kitab sucinya hanya secara tekstual-nya saja, tanpa memperhatikan kontekstual. Sehingga Jihad dimaknai sebagai perang. Yang terjadi ialah memori yang terekam dalam otaknya tentang bagaimana bertemu dengan “bidadari meskipun harus melukai diri sendiri dan mengorbankan nyawa sesama.

Dengan bengisnya mereka menyegel tempat ibadah umat lain, merusak masjid , menebar teror serta menumpahkan darah orang-orang yang tak sepaham dengannya. Sakitnya, dengan bangganya mereka melakukan itu sembari mengepalkan tangan, meneriakkan nama Tuhan. “Atas nama agama.”

Maraknya fenomena terorisme di belahan NKRI, menjadi pertanda nyata bahwa ada kesalapahaman tersendiri dalam memandang agama, terutama tujuan dan misinya. Agama tak patut disalahkan dengan disebut sebagai sumber dari kekerasan, melainkan cara beragama seseorang-lah yang patut untuk kita kaji kembali.

Jadi sudah sehatkah cara beragama kita? Atau jangan2 justru kita telah terjangkiti penyakit kejiwaan?. Dan agama tidak menyebabkan gangguan kejiwaan, tetapi cara menyikapi agama yang salah yang justru menyebabkan gangguan kejiwaan.

READMORE
 

mentari pagi


Ah, pagi yang sangat indah…
Rinai embun segar mengalir melalui jemari alam pertanda pagi telah menyentuh bumi. Memberi sedikit kehangatan bagi jiwa-jiwa yang terbalut dinginnya malam. Sinar mentari merask melali celah jendela, mencoba mengetuk pintu mataku, memaksanya terbangun melihat indahnya dunia.

Ah, pagi yang sangat indah,…
Segelas kopi hangat ataupun secangkir teh kayaknya sangat layak dijadikan teman untuk menikmati suasana indah suguhan sang Ilahi ini (pagi). Apalagi jika ada “Kue-kue atau teman-teman”nya dan dinikmati bersama keluarga tercinta. Wah sungguh moment yang sangat mengagumkan.

Ah, pagi yang sangat indah…
Entah sudah berapa kali Tuhan memberikan suguhan pagi pada kita. Ataukah pernahkah kita menghitung sudah berapa banyak pagi yang telah kita lewati. Atau mungkin kita sudah berfikir kapan kira-kira kita kan dapati pagi terakhir kita? Tapi sebelum itu semua terjadi marilah kita nikmati pagi hari ini, tak usah khawatirkan pagi esok hari.

Ah, pagi yang sangat indah…
Tuhan memang sangat hebat menjadikan pagi sebagai awal hari. Menyuguhkan keindahannya saat kita hendak memulai aktifitas. Kesegarannya memberi kita kesiapan menghadapi tantangan.


Ah, pagi yang sangat indah…
Bersedih adalah cara yang paling bodoh untuk menikmati hidup. Maka tersenyumlah,,.
READMORE
 

a woman who writes




Be in love with a woman who reads. Date a woman who spends her money on books instead of clothes. She has problems with closet space because she has too many books. Date a woman who has a list of books she wants to read, who has had a library card since she was twelve.

Find a woman who reads. You’ll know that she does because she will always have an unread book in her bag.She’s the one lovingly looking over the shelves in the bookstore, the one who quietly cries out when she finds the book she wants. You see the weird chick sniffing the pages of an old book in a second hand book shop? That’s the reader. They can never resist smelling the pages, especially when they are yellow.

She’s the one that reading while waiting in that coffee shop down the street. If you take a peek at her mug, the non-dairy creamer is floating on top because she’s kind of engrossed already. Lost in a world of the author’s making. Sit down. She might give you a glare, as most womans who read do not like to be interrupted. Ask her if she likes the book. Buy her another cup of coffee.

Let her know what you really think of Coelho. See if she got through the first chapter of Fellowship of the ring. Understand that if she says she understood James Joyce’s Ulysses she’s just saying that to sound intelligent. Ask her if she loves Alice or she would like to be Alice.

It’s easy to date a woman who reads. Give her books for her birthday, for New year eve and for anniversaries. Give her the gift of words, in poetry, in song. Give her Neruda, Tagore, Sexton, Cummings. Let her know that you understand that words are love. Understand that she knows the difference between books and reality but by god, she’s going to try to make her life a little like her favorite book. It will never be your fault if she does.

and if you have to,,

Lie to her. If she understands syntax, she will understand your need to lie. Behind words are other things: motivation, value, nuance, dialogue. It will not be the end of the world.

Fail her. Because a woman who reads knows that failure always leads up to the climax. Because womans who understand that all things will come to end. That you can always write a sequel. That you can begin again and again and still be the hero. That life is meant to have a villain or two.

Why be frightened of everything that you are not? Womans who read understand that people, like characters, develop. Except in the Twilightseries.

If you find a woman who reads, keep her close. When you find her up at 2 AM clutching a book to her chest and weeping, make her a cup of tea and hold her. You may lose her for a couple of hours but she will always come back to you. She’ll talk as if the characters in the book are real, because for a while, they always are.

You will propose on a hot air balloon. Or during a rock concert. Or very casually next time she’s sick. Over Skype.

You will smile so hard you will wonder why your heart hasn’t burst and bled out all over your chest yet. You will write the story of your lives, have kids with strange names and even stranger tastes. She will introduce your children to the Cat in the Hat and Aslan, maybe in the same day. You will walk the winters of your old age together and she will recite Keats under her breath while you shake the snow off your boots.

Date a woman who reads because you deserve it. You deserve a woman who can give you the most colorful life imaginable. If you can only give her monotony, and stale hours and half-baked proposals, then you’re better off alone. If you want the world and the worlds beyond it, propossed a woman who reads.

Or better yet, marry a woman who writes.
READMORE
 

jangan titipkan kebahagiaan




Meski pada bapak ataupun biyungmu yang merawatmu dari bayi hingga dewasa. Karena pada nyatanya, tak selamanya kebahagiaan mereka sejalan dengan yang kita punya. Dan jika pada suatu nanti mereka tiada, tiada pulalah kebahagiaan yang kita titipkan.

Janganlah engkau titipkan, pada sahabat dekat yang begitu erat. Yang selalu ada ketika kau luka, pun juga tak alpa ketika kau bahagia. Tetap saja, jangan kau titipkan kepada mereka. Jika suatu saat nanti mereka pergi, pergi pulalah kebahagiaan yang engkau ingini.

Atau jangan sekali-kali engkau titipkan. Pada angka-angka sempurna di lembar ujian. Memang sungguh menawan dan membanggakan. Tetapi bisakah kau bayangkan?jika suatu saat nanti mereka tak lagi sempurna, hilang pulalah kebahagiaan yang kau punya.

Dan jangan kau titipkan kebahagiaan pada pangkat yang tertinggi. Meski mereka berkuasa di berbagai pelosok negri. Tapi senyatanya, di dunia ini tak ada yang abadi. Roda kehidupan tak akan berhenti untuk bergulir, dan jika pangkatmu tak di atas lagi, terjatuh pulalah kebahagiaan yang engkau miliki.

Sekali lagi jangan kau titipkan kebahagiaan pada orang yang kebanyakan. Karena kebahagiaan mereka kadang berbanding terbalik dengan milik kita. Sungguh dinamis, dan tak ada standarnya. Alih-alih terjaga keseimbangannya, yang ada malah sebaliknya kebahagiaan yang kita titipkan jatuh dan hancur berantakan.

Jadi cobalah meski perlahan, simpan sendiri kebahagiaan yang engkau miliki. Meski hanya kau simpan dalam ruang sempit dengan fasilitas seadanya, tetapi setidaknya itu lebih terjaga. Karena kebahagiaan itu akan selalu berada bersamamu, tak akan goncang meski tak sejalan dengan asamu, tak akan pergi meski sahabat tak lagi ada di sisi, tak akan hilang meski angka yang kau punya tak lagi sempurna, tak akan terjatuh meski pangkatmu tak lagi tinggi, dan tak akan hancur meski kebanyakan orang menjatuhkannya. 

Jadi sekali lagi, simpanlah sendiri kebahagiaan yang kau miliki, jangan engkau letakkan sembarangan dan jangan sekali-kali engkau titipkan.
READMORE
 

tentang cinta,,tentang kita,,




….. 
Bukankah George Bernard Shaw mengatakan bila cinta itu kekanak-kanakan, penuh dengan keingin-tahuan. Ibarat gairah hormon yang menggelora, sehingga bisa pula menguap dengan cepat. Tetapi apakah cinta hanya dialami remaja? 

Pepatah turki mengatakan “cinta remaja berasal dari bumi, cinta dewasa datang dari surga”. Jadi, orang dewasa, bahkan yang sudah lansia, bisa juga menikmati cinta yang indah.

Albert Einstein fisikawan penerima Hadiah Novel itu pernah berujar, terlalu naif kalau kita hanya menggunakan teori-teori kimiawi atau fisika untuk menjelaskan peristiwa biologis yang kompleks, sebagaimana halnya cinta pertama. 

Nietzsche, filsuf yang genius itu merasa kesulitan pula menjelaskan mengapa cinta hadir, selalu ada kegilaan dalam cinta, dan selalu ada alasan untuk semua macam kegilaan. Woww…..!!

Bahkan Benjamin Disraeli menganggap cinta itu magis, karena kita tidak tahu bahwa ia tak akan berkesudahan. 

Nicholas Sparks menegaskan tidak ada cinta yang sedemikian hebat seperti cinta yang tulus.

Nah, tentu yang paling romantis, kalau kita merayakan apa itu cinta di pinggir sawah, di kaki gunung, ketika tarian edelweis yang anggun diiringi oleh gerakan awan yang indah. 

Teruntuk masa depanku yang akan datang. Memang engkau bukan cinta pertamaku, tetapi dengan kesungguhan engkau akan menjadi yang terakhir.
READMORE
 

Ungkapkan saja




Mungkin banyak jiwa bertanya-tanya dalam dirinya "Kenapa saya tidak bisa menyampaikan ini/itu pada orang lain?" atau sekedar bergumam dalam diri "sebenarnya ini/itu yang saya maksud !!
Apakah jiwamu pernah begitu? Kenapa begitu ?

Meyakini sebuah kebenaran
Setiap aku ditanya olehnya "baiknya bagaimana ini? pilih 'A' atau pilih 'B' ?" aku selalu terdiam, dan kalaupun aku menjawab aku butuh waktu lebih lama dan lebih siap untuk menjawabnya. Walaupun jujur, dikepalaku tersirat sejuta pilihan jawaban, namun aku tak yakin ini benar, atau yang itu yang benar.

Aku terlalu takut salah..namun rupanya bungkam dan rasa takut itulah yang membuat aku kian salah dalam sebuah pengambilan keputusan. sungguh !

Ungkapkan saja! jangan pernah takut salah! itu rupanya hal yang terbaik dalam perjalanan. Dengan mengungkapkan, jiwaku mengambil tanggung jawab jika terjadi kesalahan. Jiwaku dituntut harus belajar lebih dan lebih agar kemungkinan kesalahan itu kian menipis, dan moga-moga habis...

Jangan lari adalah pilihan terbenar, walau mungkin akan menghasilkan suatu pilihan yang salah. tapi lagi-lagi, kesalahan hari ini adalah proses menjadi benar, namun itu akan lebih cepat matang bilamana kita berani mengambil tanggung jawab itu rupanya. tanggung jawab untuk meyakini sebuah kebenaran.

Mau atau tidak mau?
Ketika harus mengungkapkan suatu yang riskan, aku selalu kuatir, karena apa, ya karena aku tak menguasai hal itu. Aku terlalu awam akan hal itu. Namun sedikit menyambung simpul sebelumnya Ini soal kemauan bukan soal pengetahuan.
Pertama, ini soal kemauan untuk jujur mengakui keadaan. Bahwa kemampuanku hanya sampai disini. tidak kurang, tidak lebih.
Kedua, dengan menungkapkan ini berarti mengikrar diri untuk MAU lebih baik lagi.paling tidak dalam memilih hal yang sama dari hari ini.

Takut kehilangan ? kamu yakin?
Alasan orang paling klasik dalam tidak berani mengungkapkan adalah takut disalahkan/kehilangan.
Seorang anak akan mengumpatkan vas bunga yang pecah karena takut dimarahi ibunya. Seorang kekasih menyimpan ungkapan cinta pada sahabatnya supaya bisa terus bersamanya.
Aku sadar memang kehilangan dan dipersalahkan adalah hal paling menyesakan dalam dunia ini mungkin. Namun aku sadar satu hal..mungkin bgini ilustrasinya....

  • Anak kecil pemecah vas tadi tidak akan lebih hati-hati bila dia tidak dimarahi. Namun anak kecil itu akan jauh lebih berhati-hati dan sigap ketika secara sadar dia datang pada ibunya..jujur, baik dimarahi atau tidak memarahi' dirinya sendiri atas kesalahannya, ketimbang dia belajar menyembunyikan segala hal yang seharusnya mungkin tidak seburuk yang dia kira.
  • Sang kekasih yang mencintai sahabatnya, mungkin akan merana sepanjang hidupnya, apalagi melihat sang sahabat dimiliki orang lain, hanya karena ketakutan kehilangan, padahal dia juga akan kehilangan bila tak berucap. Bila saja dia berucap dan ungkapkan, pilihannya cuma dua juga bukan? sial..sial...dia ditolak dan benar-benar kehilangan (seperti halnya tidak berucap-walauwaktunya mungkin lebih cepat), atau justru dia peroleh apa yang sesuai dengan harapannya. jadi perbedaan mengungkapkan hanya masalah waktu bila hasilnya buruk, namun masalah keberanian bila hasilnya baik bukan?
Pilih mana ? Ungkapkan ? atau diam seribu bahasa ?

"sebab aku tidak akan tahu apa yang aku tidak tahu. Bila aku nantinya tahu pilihanku hanya dua bereaksi positif...atau bereaksi negatif untuk suatu hikmah yang positif..." - Christopher Reginald
READMORE
 

tentang jodoh




Masih ragu akankah dia yang sedang bersamamu adalah jodohmu? 
Atau kecewa dia yang telah pergi ternyata bukan jodohmu? 


Jodoh itu apa sih?
Kalau menurut definisi, jodoh adalah: orang yang cocok menjadi suami atau istri; pasangan hidup; imbangan; sesuatu yg cocok sehingga menjadi sepasang; pasangan: cocok; tepat.
Kalau saya boleh menjelaskannya menggunakan definisi pribadi, jodoh adalah seseorang yang klop banget dengan kita. Memahami, satu pikiran, sepemahaman, saling melengkapi, sehingga saat akhirnya kita dipertemukan, jadi heran sendiri. Serasa de ja vu, seperti sahabat lama yang bertemu lagi.
Karena meskipun baru pertama bertemu, atau setelah sekian lama baru merasakan perasaan itu, jodohmu sudah dapat memahami apa maumu, dan nyambung kalau diajak ngomong. Istilahnya, chemistrynya dapat.

Apakah jodoh ada di tangan Tuhan?
Ya. Jadi banyak-banyak doa saja agar dipertemukan dengannya. Tapi jangan ngotot lo ya, sehingga saat belum dipertemukan, kamu jadi stress sendiri. Let it flow saja, rencana Tuhan tetap jadi misteri, hingga saat kau mati.

Haruskah jodoh saling memiliki?
Dulu, kalau ada yang bilang  ‘cinta tak harus memiliki’, biasanya saya akan sinis menanggapi ‘ini yang ngomong pasti habis ditolak cintanya’.
Lama-lama, saya merasa perkataan ini ada benarnya. Coba lihat lagi definisi di atas. Ada yang bisa menikah dengan jodohnya, ada yang bisa pacaran dengan jodohnya, ada yang tahu jodohnya sudah jadi pasangan orang, ada yang tahu rasanya si X ini jodohnya tapi tidak mungkin jadi pasangan, ada yang malah belum tahu jodohnya ada dimana di belahan dunia ini. Pokoknya somewhere outhere beneath the rainbow deh di bawah langit yang sama.
Kita tidak tahu jodoh kita yang mana, sedang apa dan sama siapa (macam lagunya kangen band aja..). Tidak perlu berpikir untuk merebut milik orang lain yang kita yakini sebagai jodoh kita, atau bermain di belakang menipu pasangan resminya.
Ah, kenapa menodai rencana Tuhan yang begitu suci dengan pikiran dangkal manusia.

Jadi, haruskah saya menunggu jodoh, barulah saya mempunyai pasangan hidup?
Kalau mau menunggu, silakan.  Tapi yakin nih, jodohmu bukan orang yang sedang dekat denganmu? Ngga tahu juga kan. Jadi, amati dan rasakan orang-orang di sekelilingmu. Mungkin ada yang agak nyambung, mungkin ada yang rela berhujan-hujan untuk menemuimu, mungkin ada yang rindu setengah mati padamu.

Menjadikannya pasangan hidupmu, mungkin itu keputusan terbaik yang pernah kamu buat.
Sembari menanti datangnya jodoh,  sibuklah meningkatkan kualitas diri. Kata orang menunggu itu menyebalkan, demikian juga dengan menunggu jodoh. Lebih baik isi hidupmu dengan kegiatan-kegiatan yang berguna, diskusi yang membuka wawasan, dan mencari jati diri. Kelak, jika sudah waktunya dan kau bisa bertemu jodohmu, dia akan melihatmu sebagai seseorang yang patut diperjuangkan.

Akhirnya,Jika memang dia bukan jodohmu, tunggu saja rencana indah Tuhan.Jika tidak bisa di dunia, di akhirat nanti kau akan bersama.

*hanya ingin tahu, ketika diri sudah memantaskan untuk yang pantas, dan saat senja menjelang, kumenoleh ke samping, akankah kau yang berdiri anggun ada di sana?*
READMORE
 

jika pria menangis….




Pria adalah sosok yang kuat. Sejak kecil pria selalu dibiasakan untuk tegar dan tidak mudah untuk menangis dalam situasi apapun.

Namun salahkan jika seorang pria menangis dalam hidupnya?

Jika dibandingkan dengan wanita, pria jelas memiliki perbedaan baik dari sisi fisik & psikis. Wanita cenderung menggunakan perasaan sedangkan pria menggunakan akal logika. Sehingga untuk menjawab pertanyaan di atas, maka kita sepakat tentunya ada yang salah pada pria tersebut jika ia sampai menangis.

Masalah pekerjaan tidak akan menyebabkan pria menangis, pun masalah keuangan. Lalu, apakah yang membuat seorang pria menjadi menangis? Akal itulah jawabannya. 
Justru karena pria menggunakan akalnya lah yang menyebabkan ia menangis. Ia menangis karena telah lelah dalam berpikir, sel-sel dalam otaknya tidak mampu lagi untuk digunakan berpikir dalam menyelesaikan masalah. Saat ia menangis, jauh dalam pikirannya yang ada hanyalah air mata sebagai solusi.

Dalam kondisi tersebut, justru wanita dapat bersikap tegar. Kondisi ini berbeda dengan keseharian wanita yang mudah tersentuh meski hanya menonton sinetron picisan. 

Hal ini menunjukkan bahwa dalam kekuatan pria sebenarnya wanitalah yang jauh lebih kuat. Terbukti, saat pria bersedih bahkan sampai menangis hanya wanita lah pelipurnya.

Tentunya anda yang merasa sebagai pria yang tidak pernah menangis tidak setuju dengan tulisan saya ini. Tapi, cobalah untuk merunut ulang terhadap perjalanan hidup anda, siapakan yang selalu anda butuhkan saat akal anda tak mampu lagi diajak berkompromi & berpikir.

Jangan pernah malu bagi anda yang perah menangis, karena keluarnya air mata dapat mengurangi resiko anda terkena serangan jantung & stroke. Air mata dapat melepaskan segala beban yang selama ini ada di pundak. Tapi, tentu saja jangan keterusan menangis karena pasti orang akan bingung anda pria atau wanita.

saat pria menangis..
bukan kelemahan yang akan ditampilkan..
tapi yang diperlihatkan adalah kelembutan..
pria juga manusia…, sama seperti wanita.

AIR MATA TAK AKAN MEMBUAT PRIA TAMPAK LEMAH, TAK AKAN MEMBUAT LELAKI TAMPAK CENGENG.

Keluarkanlah air mata anda hanya pada saat yang tepat!

image source 
READMORE
 

untukmu yang merasa sendiri



Untukmu yang merasa sendiri karena ditinggalkan, ini untukmu ya,,

Sadarilah bahwa untuk beberapa saat engkau akan berlaku agak aneh, yaitu merasa bahwa engkau hanya sendiri di dalam hidup ini, dan bahwa dunia ini kosong dari apa pun yang bisa menggembirakanmu.
Cobalah ingat, betapa cerianya engkau dulu sebelum dia datang dan membuatmu jatuh cinta kepadanya?
Bukankah engkau dulu mampu untuk hidup mandiri dan bebas untuk bergembira di mana pun dan dengan siapa pun?
Apakah dia demikian hebatnya, sampai-sampai engkau berlaku menistakan nikmat Tuhan yang amat sangat luas ini?
… nikmat Tuhan yang mana lagikah yang kau dustakan?

Jangan sampai engkau tidak mendapatkan yang tidak baik bagimu sekarang, dan membatalkan kepantasanmu untuk mendapatkan belahan jiwa yang sesuai bagimu jika engkau berbaik sikap?
Apakah sesungguhnya engkau sedang menistakan rencana Tuhan bagi jiwa yang lebih baik, karena engkau tak kunjung membijak kehilangan yang tidak baik?
… nikmat Tuhan yang mana lagikah yang kau dustakan?

Sudahlah,,
Lupakanlah dia,,
Dulu engkau berbahagia tidak mengenalnya, dan engkau bisa tetap berbahagia setelah pernah mengenalnya.
Perlakukanlah dia sebagai yang pernah kau cintai, seperti keikhlasanmu menerima semua kehilanganmu selama ini.
Pantaskanlah dirimu bagi belahan jiwa yang lebih baik.

Sesungguhnya,,,
Keindahan yang kau dapat, sesuai dengan keindahan yang kau upayakan.

*a note for my friend
READMORE
 

aku ingin engkau,,




Aku tak ingin engkau menjadi lilin..
Meski cahaya kecilnya indah
Tapi ia hanya ada ketika gelap gulita datang bersinggah

Tapi Aku ingin engkau menjadi mentari pagiku,,
Yang cahayanya selalu dinanti setiap pagi
Dan kehadirannya selalu disambut senyum oleh seluruh penghuni bumi

Aku tak ingin engkau menjadi lilin..
Ia memang datang untuk menerangi
Tapi ketika ia pergi tak ada yang menangisi

Tapi Aku ingin engkau menjadi mentari pagi,,
Ia tercipta untuk menerangi seluruh titik bumi
Tapi ketika ia pergi …
Semua menunggu ia datang kembali esok hari
Karena  jika ia tak kembali
Maka itu pertanda bahwa lautan harapan kehidupan
Sudah tak akan mungkin diraih lagi…

Aku tak mau engkau seperti lilin..
Ketika ia bercahaya
Ia hanya memberi sementara

Tapi aku ingin engkau seperti mentari
Yang cahayanya tak habis untuk memberi
Meski dinikmati seluruh makhluk di muka bumi…

Aku tak ingin engkau seperti lilin,,
Yang terkadang egois ketika menerangi dirinya sendiri
Hingga cahayanya padam dan meleleh tanpa sebuah arti

Tapi aku ingin engkau seperti mentari
Yang selalu mau berbagi
Meski  ia nanti juga pergi dan tak kembali untuk menerangi
Semua akan mengingatnya sebagai ciptaan terindah sang Illahi.
READMORE
 

katakan padaku,,




Katakan kepada hidupku,,tentang cinta yang menyatukan langit dan bumi. Saat jiwa kau pagari dengan kesucian. Maka tak kan ada ruang bagi budak-budak cinta akan memasukinya. Maka hidupku adalah jiwa yang mabuk dan terpesona dengan pijar di matamu. Padahal sinar matamu teruntuk jalan bila gelap, dan untuk cahaya di antara hati dan mimpi. Akulah yang melihatmu dalam pijar langit dan bumi. Yang mengajariku bahwa cinta adalah kenyataan yang memenuhi keduanya.

Dan jika mimpi telah beranjak, siapakah yang menemukan kemuliaanya kembali di tanah ini ? Mimpilah yang mengajarkan hidup tentang kehalusan, dan jiwa yang penuh kasih. Katakanlah kepadaku, duhai,,yang memijarkan kalbuku adalah jiwamu. Lalu mengapakah aku seperti budak-budak kesunyian kerena rasa cinta kepadamu.

Adakah hidup yang mencintai adalah kebencian di langit, karena telah ku pijak sang bumi dengan rindu-rindu hatiku kepadamu. Katakanlah, wahai,,tentang cinta yang menyatukan langit dan bumi. Di saat langit mengenggam jiwamu, aku juga memburu nafasmu. Biarkan aku berpacu dengan jalan, waktu, dan takdir. Dan janganlah bulan menjauhiku jika malam aku melukismu. Bumilah tempat kasih jiwa tumbuh, dan langit adalah pucuk-pucuknya.

Kasih dengarlah jika langit telah menghujamiku cerca, ia berkata, “ pergilah kepada kesunyian dan hati yang tersiksa, di jalan-jalan bumi cinta menyengsarakan hati, dan menjauhkan segala mimpi.

Cintakah yang melibatkan hidup di dalam penantian, pada hari-hari yang tidak pernah pasti. Tentang keburamannya yang menebar tak terarah. Menghapus cahaya dan jiwapun sirna. Atau cintakah yang melarikan mimpi-mimpi ke dalam belenggu sunyi, yang memenjarakan kalbu. Maka katakanlah kepada hidupku, bahwa cinta mengajarkan jiwa tanah-tanah bumi yang indah yang bila sedang bernyanyi di bawah langit yang menaungi dengan keberkahannya.

Sebutlah,  kasih ..  tentang cinta yang membangkitkan kasih di negeri-negeri tandus, lalu negeri itu di penuhi anugerah karena cinta membuatnya subur dalam jiwanya. Karena kasih sayang adalah ladang yang paling indah. Atau ucapkanlah pada bebatuan yang mengkristal di kematianku jiwaku ini, bahwa kedatanganmu adalah api yang mencairkan kesunyian dan membelah kebekuan menjadi butir-butir kesadaranku akan hidupku.

Maka simaklah apa yang diucapkannya saat ku pandang langit dari atas negeri ini, “ tembuslah sejauh cakrawala untuk bisa meraih sang cinta, atau jika engkau telah mengarungi semua kematian. “

Yah, cinta adalah kematian sekaligus kehidupan.

Kematiannya seperti para pemabuk yang tidak sadarkan diri, berjalan dalam sunyi malam, mengigau di lorong-lorong kota, menjeritkan ketidaktahuan dan kegelisahan. Cinta yang membunuh kesadaran, merampas jiwa menjadi budak-budak cintanya, membelenggunya. Menjadikan jiwa-jiwa putus asa, membenci kehidupan, mendendam kepada senyuman yang tersungging di bibir pagi.

Cinta adalah kuburan bagi kenangan, yang diziarahi tangis dan mimpi, yang selalu ditaburi doa-doa sunyi, di saat jiwa meratapi dunia yang merebut janji sang kekasih. Cinta adalah saat-saat buta, karena tidak dapat melihat selain wajah keinginan, dan menatap kerinduan bagai alam yang teramat jauh, yang tidak akan terjangkau selamanya meski hidup telah melakukan segalanya.

Sedang hidupnya cinta seperti jiwa yang berfijar, laksana suluh yang membangunkan tidur yang beku karena waktu senantiasa melelapkan lembah-lembah, dialah fijar yang membidik titik kebangkitan bagi kehidupan yang telah diselubungi aroma kematian di kalbunya.

Cinta seperti pijar yang keluar dari keluhuran semesta, menjadikan cahaya wajah begitu indah pada senyum bahagianya, lidahnya yang melantunkan puji-puji, tangannya yang melukis kenyataan, jiwanya yang menulis kebenaran, dan hidupnya mengusir kematian segala makna.

Cinta adalah pijar di kegelapan dan kehampaan, saat para jiwa terduduk lesu terperangkap. Yang menembus ke dalam naluri dan menerangi sisi yang sunyi, mengajarinya melihat hidupnya langit, dan menghangatkannya dengan menghidupkan kasih.

Maka dimanakah kehidupan cinta, yang bisa melindungiku dari kesedihan. Atau bisa menghindarkaku dari sunyi yang membunuh. Ucapkanlah, hai kekasih ..  Dari lidah jiwamu, tentang cinta yang menyatukan langit dan bumi. Agar ada jalan bagi bayanganku yang menjejaki bumi dapat melayang tinggi di sekitar langit, bersama bayangmu yang menghiasi mimpi-mimpi.
READMORE
 

untukmu,,



Merayu...
Tak ingin begitu
Meskipun kamu berpikir seperti itu
Hanya ingin dekat denganmu
Mengurai tawa mengukir senyum malu
Mengukir bahagia dalam hatimu

Menggoda,,
Ingatlah bukan aku, pastinya
Bedakan aku dengan pria penggoda
Aku hanya sebagaimana adanya
Tak bisa menutupi fakta
Benar adanya tentang rasa

Gombal,,
Sedikit bisa tapi jarang gagal
Untukmu tentu berhasil, kesal
Jujur adanya bukan gombal
Pikirmu tidak, berbeda total

Melihatmu,,
Sangat ingin bertemu
Walau dirimu mungkin tidak
Lihatlah aku selalu berangan tentangmu
Bukan merayu, menggoda, apalagi gombal gilak

Ketahuilah ini
Tak bercanda, aku ingini kamu disini
Disini…disisi…tanpa jarak berarti,,

image source
READMORE
 

can you forget HIM


Forget his name, forget his face
Forget his kiss and his warm embrace
Forget the love that once came true
Remember now there's someone new,

Forget the love that you once shared
Forget the face that had once cared
Forget the time you spent together
Remember now he's gone forever,

Forget you cried the whole night through
Forget him when they play your song
Forget how close you two once were
Remember now he's chosen her,

Forget you memorized his walk
Forget the way he used to talk
Forget the times he was mad
Remember he's happy instead of sad,

Forget his teasing, gentle ways
Forget you saw him everyday
Forget he made your dreams come true
Remember now she loves him too,

Forget the thrill when he walked by
Forget him when he made you cry
Forget the way he spoke your name
Remember now he's not the same,

Forget the way he said he loved you
Forget the way he kissed and hugged you
Forget all those nights when he held you tight
Remember now he holds her tonight,

Forget all those sunny days
Forget all those poems he made
Forget those times through good and bad
Remember he said he'd never make you sad,

Forget the games he played with you
Forget the times he stayed with you
Forget those cold, cold nights
Remember now he keeps her warm tonight,

Forget the way he looked at you
Forget you kissed the whole night through
Forget all you dreams came true
REMEMBER, that he doesn't love you.
READMORE
 

sebuah perenungan...



Manusia dapat bahagia bila ia bisa membuka mata.
Untuk menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti.
Manusia bisa berbahagia bila ia mau membuka mata hati.
Untuk menyadari, betapa ia dicinta.
Manusia bisa berbahagia, bila ia mau membuka diri.
Agar orang lain dapat mencintainya dengan tulus.

Manusia tidak bahagia karena tidak mau membuka hati, berusaha untuk meraih apa yang tidak dapat diraih, memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan, tidak mau menerima dan mensyukuri yang telah diberikan.
Manusia buta karena egois dan hanya memikirkan diri, tidak sadar bahwa saat ini ia begitu dicintai, apa yang ada adalah baik, selalu berusaha meraih lebih, dan tidak mau untuk sadar karena begitu serakah.

Ada teman yang begitu mencintai, namun tidak diindahkan, karena memilih, menilai dan menghakimi sendiri.
Memilih teman dan mencari-cari, padahal di depan mata ada seorang teman sejati.
Telah memiliki segala yang terbaik, namun serakah, ingin dirinya yang paling diperhatikan, paling disayangi, selalu ingin menjadi pusat perhatian, selalu ingin dinomor satukan, padahal, semua manusia memiliki peranan, hebat dan nomor satu dalam satu hal, belum tentu hebat dalam hal lain, dicintai oleh satu orang belum tentu dicintai oleh orang yang lainnya.

kebahagian bersumber dari dalam diri kita sendiri. jikalau berharap dari orang lain, maka bersiaplah untuk ditinggalkan, bersiaplah untuk dikhianati.

Kita akan dapat berbahagia bila kita bisa menerima diri apa adanya, mencintai dan menghargai diri sendiri, mau mencintai orang lain, dan mau menerima orang lain. apa adanya.
Percayalah kepada Tuhan, dan bersyukurlah kepada-Nya, bahwa kita selalu diberikan yang terbaik sesuai usaha kita, tak perlu bberkeras hati.
Ia akan memberi kita disaat yang tepat apa yang kita butuhkan, meskipun bukan hari ini, masih ada esok hari.
Berusaha dan berbahagialah, karena kita masih dicintai begitu banyak orang. dan yang terpenting kita masih dicintai-Nya.

(kayanya keracunan kafein gw pas lagi nulis ini,,thanks for inspired me to wrote this)

READMORE
 

lollipop


Lollipop,,,
Apa yang terpikir ketika mendengar kata itu??

Bentuknya ??
Rasanya ??
Lucu, manis, dan menarik perhatian…

Mungkin itu yang terpikirkan ketika mendengar kata itu…

ternyata,, bukan sekedar itu yang terpikirkan oleh ku,,
"lollipop" mempunyai arti yang lebih dalam hidupku.

karena sebuah "lollipop" aku bisa bertemu dengan nya,
Dengan seorang wanita yang begitu lucu, senyumnya yang manis, obrolannya yang cerdas, dan dia sungguh menarik perhatianku seperti "lollipop".

READMORE
 

tentang apa itu cantik



Ini tentang suatu hari, saat kau tiba tiba bertanya padaku tentang apa itu cantik. Lalu aku menjawab seadanya saja, bahwa cantik adalah nama lain dari dirimu. Engkau menggulung bibir, lalu kembali melemparkan tanya yang sama. Ah, rupanya kau benar benar ingin bertanya.

Aku diam beberapa saat, tidak buru buru menjawab. Setelah kuseruput kopi yang kupesan, barulah aku membuka kata.

Jika jawaban yang ingin kau dengar hanyalah tentang yang indah indah saja, maka kau tidak perlu menanyakan apa itu cantik. Kau hanya butuh menonton acara populer di media visual, menikmati iklan-iklan yang ada, atau hanya sekedar menatap lekat-lekat sampul sebuah majalah wanita. Maka dengan mudah kau akan mengerti definisi cantik dari sisi yang populer. Begitulah cara media menampilkan sisi cantik kaum hawa.

Terkadang media melupakan satu hal, bahwa cantik adalah bahasa konsep. Sebagaimana sifat bahasa konsep pada umumnya, keidealannya berbeda antara belahan bumi yang satu dengan belahan bumi yang lain. Wajar jika akhirnya ada salah kaprah. Lihat saja, cream pemutih ditawarkan pada perempuan perempuan di negeri tropis yang nyata nyata sudah memiliki warna kulit tercantik di dunia.

Ya benar, definisi cantik itu berbeda pada setiap tempat dan pada setiap masa.

Lalu kau kembali bertanya, “Adakah arti cantik yang tak mengenal batas, tak mengenal masa dan tak mengenal warna?”

Pertanyaan yang cantik, dan aku hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil. Bisa ditebak, sesaat setelah aku mengangguk, kau memaksaku untuk menjelaskannya. Aku mengangkat kedua ujung bibirku, meraih kembali cangkir kopi, menyeruputnya, kemudian memandangmu. Sebelum aku sempat mengucapkan sesuatu, kau buru buru memenggalnya dengan sebuah kalimat.

“Jangan bilang cantik itu dari hati, karena semua orang juga mengerti”

“Tapi itu benar”, jawabku.

Kau menggeleng untuk kemudian berkata, “Aku ingin jawaban yang lain”

Baiklah,,cantik adalah satu kata sejuta makna, dan hati adalah kata yang tepat untuk merangkumnya. Sekarang kau ingin jawaban yang berbeda.

“Baiklah, aku akan menjawabnya”, kataku. Kau terlihat senang.

Dan aku pun mulai berkata kata. Kukatakan bahwa cantik adalah saat kau bisa mencintai qodratmu.

Kedua matamu menerawang, seperti tak sedang mendengar ucapanku. Lalu kau menatap wajahku lekat-lekat, kemudian tersenyum. Cantik sekali.

“Ya aku perempuan, dan aku mencintai qodratku.”

Kini giliran aku yang menatapmu. Memandang bibir mungil yang merekah itu. Bukan, aku bukan sedang mengagumi bibirmu. Lebih dari itu, aku terkagum oleh kata kata yang keluar dari bibir cantikmu.


Sesuatu akan semakin terlihat cantik manakala dia mampu menampilkan kesederhanaannya. Dan mencintai qodrat adalah tindakan yang begitu sederhana
READMORE